Setelah memahami konsep Depth of Trance, peserta perlu mengenal berbagai istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi atau kedalaman hypnosis.
Dalam pembelajaran hipnoterapi, istilah-istilah seperti Hypnoidal, Light Trance, Medium Trance, Deep Trance, Somnambulism, Profound Somnambulism, hingga Hypnotic Coma State / Esdaile State digunakan untuk membantu praktisi memahami perkembangan respons hypnosis.
Urutan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Hypnoidal
↓
Light Trance
↓
Medium Trance
↓
Deep Trance
↓
Somnambulism
↓
Profound Somnambulism
↓
Hypnotic Coma State / Esdaile State
Namun, urutan tersebut tidak boleh dipahami sebagai tangga yang mutlak. Kondisi hypnosis bukan sesuatu yang selalu dapat diukur secara tepat hanya dengan melihat posisi seseorang pada urutan tersebut.
Sebagaimana dibahas pada bagian sebelumnya, berbagai skala depth digunakan sebagai model untuk membantu praktisi mengamati, menggambarkan, dan mengomunikasikan respons hypnosis. Manual pelatihan juga memperkenalkan beberapa model, yaitu Arons' Scale, Davis-Husband Scale, dan Stanford Hypnotic Susceptibility Scale.
Dengan demikian, ketika praktisi menyebut seorang klien berada pada Light Trance atau Deep Trance, istilah tersebut sebaiknya dipahami sebagai deskripsi kondisi dan respons hypnosis, bukan sebagai diagnosis atau pengukuran absolut terhadap kondisi pikiran klien.
2.1 Hypnoidal
Hypnoidal menggambarkan kondisi hypnosis yang relatif ringan.
Pada tahap ini, seseorang dapat mulai mengalami perubahan dari kondisi kesadaran normal menuju kondisi hypnosis. Perhatian mulai lebih terfokus dan respons terhadap proses induksi atau sugesti dapat mulai terlihat.
Dalam pembelajaran, Hypnoidal dapat dipahami sebagai tahap awal perubahan respons hypnosis, ketika klien mulai memasuki kondisi yang berbeda dari keadaan normal tetapi belum menunjukkan fenomena hypnosis yang kompleks.
Yang perlu diperhatikan praktisi adalah bahwa kondisi ringan bukan berarti proses hypnosis gagal.
Seorang klien dapat tetap terlihat cukup sadar, masih dapat mendengar suara praktisi, atau masih merasakan lingkungan sekitarnya, namun tetap mengalami respons hypnosis.
2.2 Light Trance
Light Trance merupakan kondisi hypnosis ringan dengan respons yang mulai lebih jelas.
Pada tahap ini, fokus perhatian biasanya semakin terarah dan proses relaksasi dapat menjadi lebih stabil. Respons terhadap sugesti sederhana dapat mulai lebih mudah diamati.
Dalam konteks pembelajaran, Light Trance membantu peserta mengenali bahwa hypnosis tidak harus ditandai oleh perubahan dramatis.
Klien mungkin masih dapat berbicara, berpikir, atau menyadari lingkungan, tetapi pada saat yang sama sudah memberikan respons tertentu terhadap sugesti.
Oleh karena itu, praktisi tidak seharusnya menggunakan penampilan fisik semata sebagai satu-satunya indikator kedalaman trance.
2.3 Medium Trance
Medium Trance menggambarkan kondisi yang lebih stabil dibandingkan trance ringan.
Pada tahap ini, respons hypnosis dapat menjadi semakin jelas dan beberapa fenomena hypnosis dapat lebih mudah diamati atau diuji.
Dalam pembelajaran hipnoterapi, Medium Trance penting karena peserta mulai belajar membedakan antara:
- klien yang hanya mengalami relaksasi,
- klien yang mulai menunjukkan respons hypnosis,
- dan klien yang menunjukkan fenomena hypnosis yang lebih jelas.
Dengan demikian, fokus praktisi bukan sekadar membuat klien semakin rileks, tetapi mengamati kualitas respons yang muncul.
2.4 Deep Trance
Deep Trance menggambarkan kondisi hypnosis yang lebih dalam dibandingkan Light maupun Medium Trance.
Dalam kerangka manual, istilah Deep Trance (Somnambulism) digunakan sebagai salah satu level kedalaman hypnosis. Manual juga menghubungkan kondisi ini dengan beberapa proses terapi yang membutuhkan kedalaman trance tertentu.
Pada tahap ini, praktisi dapat bekerja dengan fenomena hypnosis yang lebih kompleks sesuai dengan respons klien dan tujuan intervensi.
Namun, penting untuk ditekankan:
Deep Trance bukan berarti klien kehilangan kesadaran atau tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Deep trance tetap merupakan kondisi hypnosis, bukan sekadar tidur atau kehilangan kesadaran.
Dalam praktik, praktisi perlu tetap melakukan observasi dan monitoring terhadap respons klien, termasuk selama proses deepening.
2.5 Somnambulism
Somnambulism merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi hypnosis yang lebih dalam, dengan kemungkinan munculnya fenomena hypnosis yang lebih kompleks.
Dalam konteks pelatihan ini, Somnambulism penting karena beberapa teknik dan proses terapi dalam manual memang menggunakan kondisi Deep Trance (Somnambulism) sebagai kondisi kerja.
Sebagai contoh, manual menyebutkan bahwa beberapa proses dalam Somatic Healing Protocol mengarahkan klien ke kondisi Deep Trance (Somnambulism).
Karena itu, peserta perlu memahami Somnambulism bukan sebagai tujuan yang harus selalu dicapai pada setiap sesi, tetapi sebagai salah satu kondisi kerja hypnosis yang dapat digunakan ketika diperlukan oleh proses terapi.
2.6 Profound Somnambulism
Profound Somnambulism menggambarkan kondisi yang lebih dalam dalam model kedalaman hypnosis.
Istilah ini juga muncul dalam berbagai model depth yang diperkenalkan dalam modul. Pada Arons' Scale, misalnya, model tersebut membagi kedalaman hypnosis ke dalam enam skala, dengan Profound Somnambulism sebagai salah satu tingkatannya.
Bagi peserta, istilah ini sebaiknya tidak dipahami sebagai sebuah kondisi yang harus dicapai untuk membuktikan bahwa praktisi berhasil melakukan hypnosis.
Yang lebih penting adalah kemampuan praktisi untuk:
- mengenali perubahan respons;
- mengetahui apakah deepening masih diperlukan;
- menjaga stabilitas kondisi hypnosis;
- melakukan monitoring;
- dan menentukan kapan kondisi tersebut sudah sesuai untuk proses berikutnya.
Dengan demikian, kedalaman bukan target kompetisi, melainkan bagian dari pengelolaan proses.
2.7 Hypnotic Coma State / Esdaile State
Hypnotic Coma State, yang dalam manual disebut juga Esdaile State, ditempatkan sebagai kondisi yang lebih dalam dalam kerangka pembelajaran ini.
Manual memberikan pembahasan khusus mengenai kondisi ini dan mengaitkannya dengan sejarah James Esdaile, seorang ahli bedah yang pada abad ke-19 menggunakan mesmerisme dalam berbagai tindakan pembedahan di India.
Dalam manual, Hypnotic Coma State digambarkan sebagai kondisi dengan relaksasi tubuh dan pikiran yang sangat ekstrem, serta dikaitkan dengan fenomena seperti automatic anesthesia. Manual juga menyebut kondisi non-receptive terhadap sugesti terapeutik.
Manual selanjutnya mencantumkan beberapa fenomena yang dapat diasosiasikan dengan kondisi ini, antara lain:
- terjadinya anestesi otomatis;
- ketidakmampuan menggerakkan tubuh;
- menolak perintah untuk “bangun”;
- terjadinya catatonia.
Dalam manual, kondisi ini juga menjadi dasar untuk teknik Coma State Deepening, yaitu proses pendalaman lebih lanjut dari kondisi Deep Trance melalui pendekatan seperti penggambaran eskalator yang bergerak turun secara bertahap.
Karena karakteristiknya sangat khusus, peserta perlu memahami bahwa Hypnotic Coma State bukan sekadar “trance yang lebih dalam” dalam pengertian sederhana. Ia merupakan istilah khusus dalam kerangka pelatihan yang mempunyai karakteristik dan penggunaan tertentu.
Memahami Level sebagai Model, Bukan Tangga Mutlak
Setelah mengenal seluruh istilah tersebut, peserta perlu kembali pada prinsip utama Depth of Trance.
Urutan:
Hypnoidal → Light → Medium → Deep → Somnambulism → Profound Somnambulism → Hypnotic Coma State
berfungsi sebagai peta pembelajaran.
Peta tersebut membantu praktisi membicarakan perubahan respons hypnosis dengan bahasa yang relatif terstruktur. Namun, respons manusia tidak selalu bergerak secara linear dari satu tingkat ke tingkat berikutnya.
Seorang klien juga tidak harus mengalami seluruh level tersebut dalam setiap sesi.
Begitu pula, praktisi tidak perlu mengejar kondisi terdalam hanya karena menganggap semakin dalam berarti semakin efektif.
Yang lebih penting adalah:
Apakah kondisi hypnosis yang dicapai sudah sesuai dengan kebutuhan proses terapi?
Depth Management: Menentukan Kapan Harus Memperdalam
Pemahaman mengenai level trance kemudian menjadi dasar untuk melakukan Depth Management.
Praktisi perlu mampu menentukan apakah kondisi klien:
Sudah cukup → Dipertahankan → Diperdalam → Distabilkan → Atau disesuaikan kembali
Sebagai contoh, apabila respons klien sudah sesuai dengan kebutuhan intervensi, praktisi tidak selalu perlu melakukan deepening lebih lanjut.
Sebaliknya, apabila proses berikutnya memang membutuhkan kondisi hypnosis yang lebih dalam, praktisi dapat menggunakan teknik pendalaman yang sesuai.
Manual mencantumkan berbagai teknik deepening seperti Counting Down, Elevator, Private Place, Ball of Light, Starway, Hallway, dan Coma State Deepening.
Dengan demikian, kemampuan praktisi bukan hanya:
“Membuat klien semakin dalam.”
Tetapi:
“Mengetahui kapan perlu memperdalam, seberapa jauh diperlukan, dan kapan kondisi tersebut sudah cukup untuk proses berikutnya.”
Ringkasan Level Kedalaman Trance
| Level | Pemahaman Dasar |
|---|---|
| Hypnoidal | Kondisi hypnosis yang relatif ringan; mulai terjadi perubahan fokus dan respons |
| Light Trance | Trance ringan dengan respons hypnosis yang semakin dapat diamati |
| Medium Trance | Kondisi lebih stabil dengan respons hypnosis yang semakin jelas |
| Deep Trance | Kondisi hypnosis yang lebih dalam dan dapat digunakan untuk proses yang membutuhkan respons lebih kompleks |
| Somnambulism | Kondisi hypnosis lebih dalam yang dalam modul digunakan sebagai salah satu kondisi kerja terapi |
| Profound Somnambulism | Kondisi yang ditempatkan lebih dalam dalam model depth tertentu |
| Hypnotic Coma / Esdaile State | Kondisi khusus yang dalam manual dikaitkan dengan relaksasi ekstrem dan fenomena tertentu seperti automatic anesthesia |
Tabel tersebut bukan tabel diagnosis dan bukan alat ukur mutlak. Ia merupakan peta konseptual untuk membantu peserta mengenali istilah, memahami perkembangan respons, dan berkomunikasi mengenai kondisi hypnosis secara lebih sistematis.
Inti Pembelajaran
Peserta tidak perlu menghafalkan level tersebut sebagai sebuah hierarki yang kaku.
Yang perlu dikuasai adalah kemampuan untuk memahami bahwa:
Setiap istilah menggambarkan kelompok karakteristik atau respons hypnosis tertentu dalam suatu model depth.
Karena itu, praktisi perlu selalu kembali pada respons aktual klien, bukan hanya pada label tingkatannya.
Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran depth tidak berhenti pada kemampuan menyebutkan “klien berada di level berapa”, tetapi berkembang menjadi kemampuan yang lebih penting, yaitu:
mengamati → memahami → memonitor → mengelola → dan menggunakan kondisi hypnosis secara tepat sesuai kebutuhan proses hipnoterapi.




